Iklan

Friday, June 26, 2020, June 26, 2020 WIB
Last Updated 2020-06-27T09:16:52Z
UMUM

KAUM MARHAEN MENGGUGAT ATAS TERJADINYA PEMBAKARAN BENDERA PDI - P, TERHADAP TUDUHAN SEBAGAI KOMUNIS

SURABAYA, Nuswantoro Pos - Atas insiden terjadinya pembakaran Bendera PDI-Perjuangan yang menyatakan, pihaknya akan menempuh jalur hukum terkait peristiwa pembakaran bendera PDI-P dalam tuduhan komunis saat aksi unjuk rasa penolakan RUU Haluan Ideologi Pancasila di depan Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (24/6/2020).

Dengan kejadian Pembakaran bendera partai berlambang Banteng ini yang di sertai ujaran Fitnahan penuduhan sebagai komunis, membuat simpatisan PDI-Perjuangan kaum Marhaen  Sukarnois Surabaya tidak bisa menerima apa yang di nyatakan dalam Aksi di Jakarta 

Jum'at. (27/06/2020) ,pukul, 21:00 wib  Simpatisan Kaum Marhaen Sukarnois mendatangi kantor DPC PDI perjuangan di jalan Stail Surabaya   terkait adanya kejadian pembakaran Bendera PDIP yang sangat menyinggung para kader dan simpatisan PDI-Perjuangan khususnya Kaum Marhaen yang akan menggugat insiden tersebut 

Seperti yang di sampaikan Rudi Rosadi bersama kawan-kawan kaum Marhaen, kepada ketua DPC Surabaya Adi Sutarwiyono, "ujaran atas paham atau aliran komunis yang ada di kubu Partai khususnya PDI perjuangan yang di tujukan, itu sudah sangat menyakitkan kita semua, kami Kader, pada Partai PDI perjuangan dan teman-teman semua yang pernah merasakan, dan melakukan ajaran tentang Kaum Marhaen, tentunya tidak bisa menerima, bahwa apa yang di katakan ajaran atau paham Marhaen, adalah ajaran komunis, itu sangat menyingung kita semua Kaum Marhaen,  tutur Rudi Rosadi 

Masih Rudi, "kami harapkan apa yang jadi sikap kami, agar ada pandangan positif atau  ada senerji dalam hal kami melakukan sikap, "kami juga paham dan sadar dalam hal melakukan sikap ketika kedepannya aksi kami lakukan,  kami tidak mungkin berbuat hal yang merugikan atau mencoreng dari ajaran yang pernah kita ajari, pungkas Rudi yang di sampaikan ke Adi Sutarwiyono selaku ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI-P kota Surabaya.
Lain hal yang di sampaikan Roni Aritonang, "apa yang di sampaikan oleh teman-teman, tidak mungkin saya batasi, "karna beliau yang ada di sini adalah Kaum Marhaen, beliau di sini Sukarnois, beliau semua yang disini adalah kader PDI perjuangan, walaupun tanpa kartu Anggota tetapi nyawa ini mereka yang mahal Harganya, ketika ada yang keberatan, yang sangat menyakiti perasaan kita selaku kader partai, selaku Kaum Marhaen, meminta teman-teman berkumpul mengambil keputusan, kita tetap kordinasi, audensi dengan PDI perjuangan kota Surabaya akan turun kejalan menyuarakan kaum Marhaen, dan ini sudah tidak bisa dibiarkan lagi, new normal yang di sampaikan oleh Presiden Jokowi  disiasati itu sebagai penghinaan negara, dan saat inilah kita anak Sukarno, yang notabene nya ada didalam kandang PDI perjuangan, sekarang,memang new normal yang harus di lakukan sekarang kaum Marhaen menggugat, pungkasnya 

Begitu juga yang di sampaikan Udin Sakera, "saya tidak bisa mengurai kata-kata, tapi saya marah!, marah karna melihat kelakuan mereka di luar batas, satu yaitu pembakaran, dan yang kedua menghina, proklamator seajarannya bahwa dianggap komunis, dengan situasi kayak gini jelas, ibu ketua umum, ibu Mega Wati tidak mungkin akan melakukan sesuatu presure, dengan bahasa redaksionalnya tapi setidaknya wilayah-wilayah itu harus merespon, bahwa yang namanya sebuah lambang bila sudah dilakukan sesuatu diskriminasi didalam saat itu, sudah tidak lazim, "persoalannya yang saya lihat ini hanya sebuah laporan untuk penangkapan "kekno ae wong seratus, entek iku kantor-kantor PDIP dalam bahasa jawanya (kasihkan saja orang seratus, habis itu kantor - kantor PDIP) pungkas Udin dengan kekesalannya 
Masih Udin, " Maksud saya harus kordinator mereka di lapangan harus bertanggung jawab dan sangsi yang lebih besar itu bagaimana?, sangsi ini bisa tuangkan, karna apa ini sudah membuat ricuh, kita ini di anggap meneng,
Lanjut Udin, " itu saya berharap sekali, karena sebuah penghinaan dan penuduhan tak mendasar,  Trisila.., Eka Sila dianggap komunis. tuturnya dengan nada kesal.

Hal sama juga di sampaikan Pak Po Hadak dalam lahirnya PDI perjuangan, "Kami memposisikan diri sebagai Kaum Marhaenis, tapi jangan lupa bahwa  kami-kami ini dulu pengurus PDI perjuangan dan kita semua tahu bahwa lahirnya PDI perjuangan bukan dari kita ngomong di satu meja, tapi dengan dara dan nyawa, peristiwa 20 juli disanalah lahirnya PDI perjuangan, saya kira pak Sasmito sangat tahu karena dia kawan saya tarik saya waktu  gerakan di pandigiling pada waktu itu. Tutur Pohadak.(*jib)