Thursday, May 23, 2019, May 23, 2019 WIB
Last Updated 2019-06-17T14:26:44Z
berita

DUKUNGAN MEDIA MASSA ( POLITIK )


Surakarta, Nuswantoro Pos - Teman saya dari luar negeri berkata kepada saya lewat telp international bahwa kerusuhan yang terjadi di Indonesia kemarin, benar benar menjadi tontonan yang menarik. Mengapa ? dunia bisa tahu bagaimana perlakuan aparat keamanan terhadap aksi demontrasi. Di awali dengan memberikan ruang kepada massa untuk menyampaikan haknya didepan umum lewat aksi demontrasi.Keadaan berlangsung dengan sangat tertip. Dunia tahu itu.  Semua media massa menyiarkan aksi demontrasi secara “ live”. Ada puluhan media massa dalam dan luar negeri melipuat aksi demo itu. Kemudian sesuai jadwal yang ditetapkan oleh UU, aksi demo dapat dibubarkan dengan tertip. Ini credit point bagi aparat keamanan.


Namun setelah demontrasi bubar dan berakhir sesuai UU, datanglah aksi susulan dengan cara yang brutal dan menyerang aparat. Media massa meliput aksi itu terus menerus dari menit ke menit. Orang bisa lihat bagaimana SOP  mengantisipasi kerusuhan dilakukan dengan sangat desiplin oleh aparat keamanan. Tidak ada serangan dari aparat sebelum dilakukan langkah persuasi seperti negosiasi. Himbauan agar mereka membubarkan diri. Media massa juga menjadi saksi bahwa aparat keamanan tidak dilengkapi dengan senjata tajam. Mereka hanya dilengkapi alat standar seperti tameng pelindung dari serangan massa, pentungan rotan dan senjata pelontar granat gas air mata dan peluru karet. Setiap gerakan aparat keamanan diikuti oleh para awak media massa. Mereka sama sama berada digaris belakang pertahanan.

Dalam situasi kerusuhan yang melakukan pembakaran dan pengrusakan itu, apapun bisa terjadi. Aksi dibalik aksi bisa saja terjadi. Penumpang gelap yang menggunakan cara kotor menembak para perusuh dengan tujuan memprovokasi massa, sangat mungkin terjadi. Dan itu sudah diperingatkan oleh aparat keamanan sebelum demo berlangsung. Diharapkan agar niat melakukan demo di hentikan dan lebih focus kepada aksi konsitutional lewat Mahkamah Konstitusi. Namun kubu No. 02 tidak memperdulikan himbauan dari aparat keamanan. Bahkan terus membakar emosi massa agar tidak ragu melakukan aksi demontrasi dalam bentuk people power. Maka yang terjadi, terjadilah.

Kalau kini, kubu 02 mengatakan bahwa aparat keamana telah melakukan pelanggaran HAM terhadap pelaku demontrasi, saya rasa itu tidak tepat. Mengapa ? menjaga keamanan terhadap aksi demontrasi yang sedang berlangsung adalah tanggung jawab HAM aparat ke pada masyarakat. Karena kalau sampai aksi demontrasi sampai berujung chaos maka korban kemanusiaan akan lebih besar terjadi. Dan ini yang kena korban bukan hanya pelaku kerusuhan tetapi juga rakyat lain yang engga ikut kerusuhan. Korban akan lebih besar sampai berujung kepada perang sipil seperti yang terjadi di Suriah. Saran saya berhentilah memberikan pernyataan yang bias, yang bisa memprovokasi masyarakat. Engga ada gunanya. Karena publik bisa melihat proses antisipasi demontrasi itu secara “ live “


Semoga semua pendukung 02 mendengar seruan dari Prabowo agar mereka tidak lagi melakukan demontrasi dan focus kepada upaya perlawanan lewat MK. Apapun hasilnya , terimalah. Andaikan 02 tidak bisa memenangkan gugagatannya di MK, maka mari kita sambut Jokowi - Ma’ruf Amin sebagai pemimpin kita.  Setelah keputusan MK keluar, tidak ada lagi kubu 01 dan 02, semua rakyat Indonesia. Jokowi presiden bagi semua. " Sekali lagi terimakasih media massa yang telah menjadi saksi sejarah bagaimana Indonesia  berjuang membela demokrasi dengan cara yang benar. Bravo TNI/POLRI" kata teman saya. (memed/red)